Suasana berbeda terasa di HKBP Slipi pada peringatan Jumat Agung, Jumat, 3 April 2026. Tidak ada kemeriahan, tidak ada perayaan—yang hadir justru keheningan yang dalam. Jemaat datang dengan langkah perlahan, memasuki ruang ibadah dalam nuansa duka yang sarat makna.
Sejak awal ibadah, liturgi disusun dengan penekanan pada penderitaan dan kematian Yesus Kristus di kayu salib. Pembacaan firman, doa-doa, serta nyanyian yang dilantunkan membawa jemaat masuk dalam perenungan yang lebih dalam dibanding hari-hari sebelumnya dalam rangkaian Passion.
Khotbah yang disampaikan menyoroti inti dari Jumat Agung: pengorbanan yang sempurna. Salib tidak hanya dilihat sebagai simbol penderitaan, tetapi juga sebagai tanda kasih yang total—kasih yang diberikan tanpa syarat, bahkan kepada mereka yang menolak.
Pendekatan ini membuat jemaat tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga bagian dari refleksi itu sendiri. Dalam keheningan, banyak jemaat tampak menundukkan kepala, sebagian larut dalam doa pribadi. Tidak sedikit yang memaknai momen ini sebagai waktu untuk mengingat kembali perjalanan hidup, kegagalan, dan harapan yang belum terjawab.
Secara jurnalistik, Jumat Agung di HKBP Slipi memperlihatkan bagaimana sebuah peristiwa iman dapat menghadirkan dimensi sosial yang kuat. Di tengah kehidupan yang serba cepat dan bising, ibadah ini menjadi ruang sunyi yang justru berbicara lebih lantang—tentang penderitaan, pengampunan, dan kasih.
Partisipasi jemaat yang tetap tinggi menunjukkan bahwa makna Jumat Agung tidak pernah kehilangan relevansinya. Justru di tengah berbagai tantangan hidup modern, pesan tentang pengorbanan dan pengampunan menjadi semakin kontekstual.
Menariknya, tidak ada penutup yang bersifat perayaan dalam ibadah ini. Jemaat meninggalkan gereja dalam keheningan, tanpa tepuk tangan, tanpa ucapan selamat. Hal ini mencerminkan karakter Jumat Agung sebagai hari perenungan, bukan kemenangan.
Namun justru dalam kesunyian itulah tersimpan pengharapan. Salib bukan akhir dari cerita, melainkan bagian dari perjalanan menuju kebangkitan.
Jumat Agung di HKBP Slipi menjadi pengingat bahwa di balik penderitaan, selalu ada makna yang lebih dalam—sebuah kasih yang tidak berhenti di salib, tetapi terus hidup dalam setiap pribadi yang mau merenungkannya.